Totok Haryono Ajak Jadikan Ramadan Momentum Menegakkan Keadilan Pemilu
|
Subang - Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum Totok Haryono mengajak jajaran pengawas pemilu dan masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperkuat komitmen menegakkan keadilan pemilu. Menurutnya, keadilan tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga keberanian menegakkan kebenaran meskipun berada di bawah tekanan.
“Keadilan bukan sekadar soal hukum, tetapi soal keberanian untuk menegakkan kebenaran meskipun berada di bawah tekanan. Semangat ini harus menjadi pegangan bagi pengawas pemilu dalam menjaga integritas demokrasi,” ungkap Totok dalam kegiatan Ngabuburit Pengawasan yang disiarkan melalui kanal YouTube Bawaslu RI, Jumat (6/3/2026).
Totok menuturkan nilai keadilan dapat dipetik dari keteladanan Muhammad yang memberi ruang bagi siapa pun yang merasa dizalimi untuk memperoleh keadilan. Ia mencontohkan kisah sahabat Sawad bin Ghaziyah sebagai simbol kepemimpinan yang menjunjung tinggi keadilan.
“Seorang pemimpin yang mulia tetap memberikan ruang keadilan bagi siapa pun yang merasa dizalimi. Nilai keteladanan ini penting bagi penyelenggara pemilu agar selalu membuka ruang koreksi dan menjunjung tinggi keadilan,” jelasnya.
Ia menambahkan, Ramadan juga menjadi pengingat bahwa perjuangan besar bangsa lahir dari semangat yang tidak mengenal lelah. Hal tersebut tercermin pada momentum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yang terjadi pada bulan Ramadan ketika para pemuda terus berjuang dan naskah proklamasi diketik oleh Sayuti Melik saat sahur.
“Ramadan bukan alasan untuk bermalas-malasan. Justru dari bulan inilah kita belajar bahwa semangat perjuangan harus terus menyala, sebagaimana para pendiri bangsa memperjuangkan kemerdekaan di tengah suasana Ramadan,” ungkapnya.
Dalam konteks kelembagaan, Bawaslu menegaskan bahwa masa di luar tahapan pemilu bukan berarti pengawasan berhenti. Pada periode tersebut, Bawaslu tetap melakukan penguatan kapasitas kelembagaan, pendidikan politik, serta sosialisasi kepada masyarakat.
Selain itu, Bawaslu juga mengingatkan kewaspadaan terhadap tiga anasir yang berpotensi melemahkan demokrasi, yakni oligarki, otoritarianisme, dan ketidaknetralan aparatur negara.
Melalui refleksi tersebut, Bawaslu mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum konsolidasi demokrasi guna menjaga nilai keadilan, kejujuran, dan integritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Penulis: G. Eki Pribadi
Foto: Bawaslu