Lompat ke isi utama

Berita

Puadi: Pemilu Adalah Laboratorium Karakter Bangsa

Bawaslu

Anggota Bawaslu Puadi dalam Seminar Fisip Universitas Nasiona (Unas) secara daring, Kamis (12/2/2026).

Subang - Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Puadi menegaskan bahwa pemilu bukan sekadar pesta demokrasi, melainkan laboratorium besar pembentukan karakter bangsa. Menurutnya, tantangan terbesar pemilu ke depan bukan hanya teknis penyelenggaraan, tetapi karakter peserta dan seluruh elemen demokrasi.

“Ya, laboratorium di mana kita membuktikan kita bisa bersaing secara sehat, kalah dengan anggun, menang dengan rendah hati, dan menerima hasil dengan sportif. Itu perjuangan,” jelas Puadi saat menjadi narasumber dalam Seminar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas) yang digelar secara daring, Kamis (12/2/2026).

Puadi mengungkapkan, praktik politik uang masih menjadi persoalan serius dalam setiap pemilu. Ia menilai politik uang bukan masalah yang berdiri sendiri, melainkan sindrom dari lemahnya komitmen terhadap nilai-nilai fundamental demokrasi.

“Inilah mengapa, gerbang yaitu Pemilu harus dijaga kekuatannya. Pondasinya harus kokoh. Engselnya harus lancar. Kuncinya harus ada di tangan pemilik sah rakyat,” terang dia.

Dalam konteks tersebut, Puadi menjelaskan bahwa Bawaslu bersama seluruh jajaran pengawas pemilu berperan sebagai penjaga gerbang demokrasi. Ia menegaskan Bawaslu tidak pernah menghalangi siapa pun untuk masuk dalam kontestasi politik, melainkan memastikan seluruh peserta mematuhi aturan yang telah disepakati bersama secara jujur, adil, dan berintegritas.

“Bawaslu hadir memastikan suara seorang nelayan di pulau terpencil memiliki bobot yang sama dengan suara seorang pengusaha di kota besar, Bawaslu ingin pemilih perempuan, pemilih difabel, pemilih muda, tidak ada yang merasa terpinggirkan. Kami hadir untuk mengejar setiap politik uang yang menggerogoti kemandirian pilihan, dan melawan setiap hoaks yang mengotori akal sehat publik,” jelas Puadi.

Ia juga mengajak kalangan mahasiswa dan akademisi untuk berperan aktif sebagai benteng pertama dalam melawan kebodohan dan hoaks, dengan mengimplementasikan ilmu pengetahuan menjadi analisis yang kritis dan bertanggung jawab.

“Mari kita bersama sama seluruh masyarakat terutama di forum ini untuk tetap kritis dan menyadari pentingnya demokrasi bagi kemaslahatan bangsa,” ajak dia.

Penulis: G. Eki Pribadi
Foto: Bawaslu