Puadi: Ihsan Pengawasan Jadi Landasan Integritas Pengawas Pemilu
|
Subang - Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum Puadi mengajak seluruh jajaran pengawas pemilu untuk merefleksikan nilai-nilai Ramadan dalam menjalankan tugas pengawasan. Salah satu nilai yang ditekankan adalah penerapan konsep Ihsan dalam kerja-kerja pengawasan pemilu.
Hal tersebut disampaikan Puadi dalam kultum Ngabuburit Pengawasan bertema Refleksi Penanganan Pelanggaran Pemilu yang disiarkan melalui kanal YouTube Bawaslu RI pada Rabu (4/3/2026).
Menurut Puadi, secara sederhana Ihsan dimaknai sebagai kesadaran bahwa segala sesuatu yang dilakukan semata-mata tertuju kepada Allah SWT dan berada dalam pengawasan-Nya.
"Jika hal ini kita amalkan, niscaya kita menjadi pribadi yang utama atau insan kamil. Dalam konteks pengawasan, 'Ihsan Pengawasan' berarti tujuan kita hanya satu yaitu memastikan semua proses pemilu berjalan sesuai aturan," ujarnya.
Puadi menjelaskan bahwa dengan semangat Ihsan, penyelenggara maupun peserta pemilu perlu memiliki komitmen yang tinggi terhadap aturan. Peserta pemilu diharapkan mematuhi regulasi bukan semata-mata karena takut kepada pengawas, melainkan karena kesadaran moral dan spiritual.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya akurasi dalam penindakan pelanggaran dengan merefleksikan hikmah dari kisah Ali bin Abi Thalib yang baju zirahnya dicuri. Puadi menceritakan bahwa ketika Ali melaporkan kasus tersebut kepada hakim, ia diminta menghadirkan bukti atau saksi atas pencurian tersebut. Namun, tidak ada saksi maupun bukti yang dapat menguatkan tuduhan tersebut, meskipun banyak orang mengetahui bahwa baju zirah itu milik Ali.
Melalui kisah tersebut, Puadi mengingatkan bahwa kebenaran hukum harus didukung oleh bukti dan saksi yang kuat sesuai ketentuan formil dan materiil.
"Bawaslu tidak boleh menindak seseorang hanya karena opini publik atau dugaan tanpa dasar. Setiap laporan harus memenuhi syarat agar dapat disebut pelanggaran. Kami berpegang pada perintah Allah dalam Surat An-Nisa ayat 135 untuk menjadi penegak keadilan," tegasnya.
Selain itu, Puadi juga menganalogikan kodifikasi Al-Qur'an dengan pentingnya manajemen data di lingkungan Bawaslu. Menurutnya, data hasil pengawasan dari berbagai divisi perlu dihimpun dan dijadikan rujukan dalam pengambilan kebijakan, sebagaimana Al-Qur'an menjadi pedoman hidup bagi umat manusia.
"Jika pengawas pemilu berpegang teguh pada data dan informasi hasil pengawasan, maka kita memiliki panduan yang selamat dalam mengambil kebijakan," tambahnya.
Menutup kultumnya, Puadi mengingatkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (khairunnas anfa'uhum linnas). Ia berharap seluruh jajaran Bawaslu dapat menjadi pengawas pemilu yang amanah, jujur, dan adil demi menghasilkan pemimpin eksekutif maupun legislatif yang berintegritas.
"Yakinlah, kebaikan yang kita lakukan sebagai pengawas pemilu akan kembali kepada diri kita sendiri. Semoga pengabdian kita menjadi amal ibadah yang diberkahi di bulan Ramadan ini," pungkasnya.
Penulis: G. Eki Pribadi
Foto: Bawaslu