Lompat ke isi utama

Berita

Puadi Ajak Kader HMI Jadi Penjaga Literasi Demokrasi dan Penggerak Pengawasan Partisipatif

Bawaslu

Anggota Bawaslu Puadi saat menjadi narasumber di Serang-Banten, Kamis (8/7/2026).

Subang - Anggota Bawaslu Puadi berharap kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi penjaga literasi demokrasi melalui peningkatan kapasitas diri, pendidikan politik, pengawasan partisipatif, hingga menggerakkan masyarakat untuk menjaga integritas pemilu. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan yang digelar di Serang, Banten, Kamis (8/7/2026).

Menurut Puadi, langkah pertama yang harus dilakukan kader HMI adalah meningkatkan kapasitas diri melalui pemahaman tentang demokrasi, kepemiluan, ketatanegaraan, serta perkembangan teknologi informasi.

"Berikutnya adalah mengedukasi. Ilmu tidak boleh berhenti pada diri kita sendiri. Tanggung jawab seorang intelektual adalah menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat," katanya.

Ia menjelaskan, kader HMI dapat berperan sebagai agen pendidikan politik di lingkungan kampus, komunitas, maupun ruang digital. Melalui edukasi tersebut, diharapkan literasi demokrasi masyarakat semakin meningkat sekaligus memperkuat kesadaran publik dalam menjaga integritas pemilu.

Setelah belajar dan mengedukasi, Puadi menekankan pentingnya tahap berikutnya, yaitu mengawasi. Menurutnya, pengawasan pemilu bukan hanya menjadi tanggung jawab Bawaslu, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh warga negara yang memiliki kepedulian terhadap jalannya demokrasi.

"Mengawasi berarti peduli terhadap proses, berani menyampaikan informasi apabila menemukan dugaan pelanggaran, serta memastikan penyelenggaraan pemilu berjalan sesuai prinsip jujur, adil, transparan, dan akuntabel," ujarnya.

Puadi menegaskan bahwa semakin banyak elemen masyarakat yang terlibat dalam pengawasan, semakin kuat pula upaya menjaga kualitas dan integritas penyelenggaraan pemilu.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa tahapan tertinggi dalam membangun demokrasi adalah menggerakkan. Menurutnya, kader HMI tidak cukup hanya menjadi pengamat yang kritis, tetapi juga harus mampu menginspirasi, mengajak, dan mengorganisasi masyarakat untuk mewujudkan perubahan yang positif.

"Kepemimpinan sejati bukan diukur dari jabatan yang dimiliki, melainkan dari kemampuan menggerakkan orang lain menuju tujuan yang lebih baik," tegasnya.

Penulis: G. Eki Pribadi
Foto: Bawaslu