Lompat ke isi utama

Berita

Lolly: Nilai Pela Gandong Jadi Fondasi Membangun Lingkungan Kerja Bawaslu Bebas Kekerasan

Bawaslu

Anggota Bawaslu Lolly Suhenty saat peluncuran di Kantor Bawaslu Provinsi Maluku, Ambon, Kamis (16/7/2026).

Subang - Anggota Bawaslu RI Lolly Suhenty menegaskan nilai kearifan lokal pela gandong dapat menjadi fondasi dalam membangun lingkungan kerja yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan di lingkungan Bawaslu. Menurutnya, semangat saling menjaga dan bertanggung jawab yang terkandung dalam budaya tersebut sejalan dengan tujuan pembentukan Kelompok Kerja Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Pokja PPKS).

Hal tersebut disampaikan Lolly saat memberikan arahan dalam peluncuran Pokja PPKS di Kantor Bawaslu Provinsi Maluku, Ambon, Kamis (16/7/2026).

"Semangat pela gandong, saling menghormati, saling menjaga, saling bertanggung jawab satu sama lain supaya nir-kekerasan benar-benar ada di lingkungan kerja Bawaslu," ujar Lolly.

Lolly menegaskan, keberadaan Pokja PPKS bukan sekadar instrumen kelembagaan, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kerja yang aman dan memberikan perlindungan bagi seluruh jajaran Bawaslu. Menurutnya, pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk menghindari terjadinya kekerasan di lingkungan kerja.

"Sebaik-baiknya upaya untuk menghindari kerusakan adalah melakukan pencegahannya terlebih dahulu," tegasnya.

Ia menjelaskan, meskipun laporan kasus kekerasan seksual di lingkungan penyelenggara pemilu di Provinsi Maluku relatif sedikit, kondisi tersebut tidak berarti potensi kekerasan tidak ada. Berdasarkan data Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), persoalan kekerasan di lingkungan kerja masih ditemukan di sejumlah daerah sehingga perlu diantisipasi melalui mekanisme pencegahan yang terstruktur.

Menurut Lolly, Pokja PPKS diharapkan menjadi ruang yang aman bagi setiap pegawai untuk berkonsultasi, mencari solusi, serta melaporkan dugaan kekerasan tanpa rasa takut.

"Mudah-mudahan dengan adanya Pokja PPKS kita bisa jadi teman bicara mencari solusi, mengatasi masalah, menghentikan kekerasan sehingga kekerasan itu tidak terjadi lagi," katanya.

Lebih lanjut, Lolly menegaskan bahwa komitmen Bawaslu dalam menjaga demokrasi tidak hanya diwujudkan melalui pengawasan pemilu di ruang publik, tetapi juga melalui terciptanya lingkungan kerja yang menghormati martabat setiap individu.

"Jangan sampai kita bicara demokrasi di luar, tetapi kita lupa ada teman di dalam yang sulit bercerita ketika mengalami kekerasan. Ada rekan kerja yang tidak punya keberanian melaporkan saat dia mengalami kekerasan. Jangan pernah terjadi hal seperti itu," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Lolly mengapresiasi inisiatif Bawaslu Provinsi Maluku yang meresmikan Pokja PPKS. Ia berharap langkah tersebut dapat menjadi contoh bagi Bawaslu kabupaten/kota di Provinsi Maluku dalam memperkuat budaya kerja yang bebas dari kekerasan melalui mekanisme kelembagaan yang terstruktur.

"Upaya yang kita lakukan adalah upaya yang terstruktur. Kita lembaga, kita hirarki, maka mewujudkan gagasan besar melalui kerja-kerja kelembagaan adalah kewajiban," pungkasnya.

Penulis: G. Eki Pribadi
Foto: Bawaslu