Bawaslu: Hari Lahir Pancasila Momentum Perkuat Kapasitas dan Integritas Pengawasan Pemilu
|
Subang - Anggota Bawaslu RI, Herwyn J.H. Malonda, menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 menjadi momentum penting untuk membumikan nilai-nilai ideologi bangsa, khususnya di masa non-tahapan pemilu pasca-Pemilu 2024. Menurutnya, berhentinya tahapan pemilu bukan berarti tugas mengawal demokrasi ikut berakhir, melainkan menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi, evaluasi, dan penguatan kapasitas kelembagaan.
Hal tersebut disampaikan Herwyn saat menjadi inspektur Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Bawaslu, Senin (1/6/2026).
“Inilah periode refleksi, evaluasi, dan pembelajaran kelembagaan. Inilah saatnya kita mengubah pengalaman menjadi pengetahuan,” ujar Herwyn.
Ia menjelaskan, nilai-nilai Pancasila harus menjadi pedoman dalam mengelola organisasi dan memperkuat kualitas pengawasan pemilu. Karena itu, masa non-tahapan perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat integritas, membangun budaya kerja yang profesional, memperbaiki tata kelola organisasi, serta mempercepat transformasi digital.
“Karena itu, masa non-tahapan harus kita manfaatkan untuk memperkuat kapasitas SDM, memperkuat integritas, membangun budaya kerja yang profesional, memperbaiki tata kelola organisasi, memperkuat transformasi digital, dan menyusun desain pengawasan yang lebih adaptif menghadapi tantangan demokrasi tahun 2029,” tuturnya.
Selain penguatan internal, Herwyn menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kohesi sosial masyarakat setelah berakhirnya kontestasi politik. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila mengajarkan bahwa kompetisi politik memiliki batas waktu, sedangkan persatuan bangsa harus terus dirawat.
Ia menilai Bawaslu memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan dinamika politik yang terjadi selama pemilu tidak meninggalkan polarisasi di tengah masyarakat. Pengawasan yang dilakukan Bawaslu, lanjutnya, tidak hanya berfokus pada penegakan hukum formal, tetapi juga menjaga nilai-nilai demokrasi yang berkeadilan.
“Pancasila mengajarkan kita, kompetisi politik memiliki batas waktu, namun persatuan bangsa bersifat abadi. Di masa non-tahapan inilah Bawaslu memikul tanggung jawab moral untuk ikut merawat kohesi sosial masyarakat,” tegas Herwyn.
Menutup amanatnya, Herwyn mengajak seluruh jajaran pengawas pemilu untuk menjadikan Pancasila sebagai energi moral dalam menjalankan tugas kelembagaan. Dengan penguatan kapasitas yang konsisten di masa non-tahapan, Bawaslu optimistis dapat menjadi lembaga yang semakin profesional, adaptif, dan kokoh dalam menjaga keadilan elektoral menuju Pemilu 2029.
Penulis: G. Eki Pribadi
Foto: Bawaslu